Kamis, 21 Juni 2012

Kontinuitas Pagi Hari

Landasan akal pagi ini, terpikirkan untuk memulai kembali kegiatan menulis yang sudah tertunda sekitar 4 bulan karena pencarian akan "kenyamanan" yang membuat terlena. Mulai hari ini kayanya lebih nyaman, semua yang saya lihat dan saya kaji mulai kembali di-RECORD-kan dalam blog ini, agar semua hal yang saya lihat dan tidak ditemukan informasinya di google bisa terangkum..yah mungkin sejenis penulisan maket informasi kali yah, dan rangkuman akan sebuah kejadian juga memberikan sedikit pendapat juga kritik-an akan suatu hal. 


Jakarta Pagi, After Meeting di bawah AC 18 derajat Celcius.

Sabtu, 25 Februari 2012

Plagiarisme, Ide dan Kreativitas.

LIKE, Kata itu dapat diartikan “seperti” atau “menyukai” dalam bahasa indonesia. Kata itulah yang pertama kali saya baca di salah satu katalog dalam sebuah pembukaan pameran di sebuah space di salah satu bukit di kota bandung. Kembali saya memikirkan tentang karya-karya seniman yang memang dasarnya adalah sebuah seni yang memiliki originalitas tingkat tinggi, dan terkandung sebuah pemahaman yang hakiki serta makna yang sangat dalam.

Tetapi sungguh unik sekali salah satu seniman ini, beliau menjelaskan hasil karyanya merupakan sebuah metode pengadaptasian atau bahkan meniru, yang dia dorong ke permukaan dan dia jadikan sebagai bentuk kritik terhadap seni kontemporer (Ismail, 2012). Memang sangat menggelitik budaya tiru meniru, mengacu dan dalam ranah ilmiah disebut sebagai reference, apabila mengikuti berarti mengutip.


(Sumber : www.platform3.net/coming-soon.html)
Sebenarnya ide-ide kreatif dalam dunia kontemporer tidak lepas dari ide-ide lama yang dikupas kembali secara menarik dan dikemas ulang oleh manusia-manusia kontemporer sehingga menghasilkan sebuah ide yang sungguh segar dan menarik. Dan sebenarnya secara pendalaman pemikiran ide-ide yang bukan merupakan acauan, kutipan, maupun reference secara tidak langsung memiliki budaya mengacu. Kenapa saya sebut hal tersebut juga mengacu? Karena memang sudah jelas, ketika kita membuat suatu hal secara sadar maupun tak sadar kita sebelumnya melihat sesuatu yang mengacu kita untuk membuat “sebuah” ide yang muncul dari benak kita. Hal itu muncul dari melihat, merasa, mendengar, membicarakan, membaca.

Hanya saja permasalahan yang ada adalah budaya ini dapat terlihat positif dan dapat terlihat negatif, bagaimana manusia kontemporer itu sendiri mengemasnya menjadi sebuah bahan positif maupun negatif. Karena memang pola-pola yang ada saat ini di era teknologi ini sudah sangat jelas terlihat, “how to anti-plagiarism” dan menjadikan sebuah karya yang originalitas, kreatif dan tanpa embel-embel plagiat. Walaupun sebenarnya kita pun mengacu, melihat, meniru, dari keutuhan ide, karya maupun hal-hal lain di luar konteks keutuhan ide kita.

Bandung, Hujan Deras, 25 Februari 2012

Rabu, 22 Februari 2012

PUSTAKAWAN : NARSIS KOMUNITAS

Tulisan ini memang berawal dari sebuah topik yang tak lain sangat jauh dari konteks judul, sebenarnya topik yang saya ikuti adalah sebuah topik tentang “ghostwriter” dikalangan dunia tulis menulis karya ilmiah. Tapi saya berpikir kenapa setiap saya baca sebuah topik dari berbagai macam milis pustakawan, selalu saja topik itu-itu lagi yang di bahas dan yang membahasnya pun orang-orang itu lagi. Coba bayangkan, berapa banyak sekolah yang membuka jurusan ini, berapa banyak lulusan dari ilmu perpustakaan, ilmu informasi dan perpustakaan, ilmu perpustakaan dan informasi (berapa banyak lagi istilah dari jurusan keilmuan ini). Terkadang saya gelisah dan kalut dengan hal ini, kok banyak perbedaan seperti ini padahal ini satu rumpun toh?

Selain hal ini juga, kenapa selalu ada sekat (walaupun tidak terlihat jelas) antara tiap sekolah yang mengadakan rumpun ilmu ini. Dan organisasi profesinya pun bermacam-macam, ada organisasi yang menaungi kesarjanaan ilmu perpustakaan, ada organisasi yang menaungi pustakawan plat merah lah dan bla..bla..bla.. komunitasnya pun seperti itu, kadang ada komunitas pustakawan yang terkait dengan subjek. Tapi satu hal yang membuat saya tersenyum, dengan perbedaan tersebutlah maka komunitas lain menganggap kita ada.

Tapi entah mengapa, selalu saja saya ketika bertemu dan mengobrol dengan teman secara tidak sengaja (tak lain teman yang bukan kuliah di rumpun ilmu ini) mereka bertanya ada toh jurusan itu? Dalam hati, yah ada lo ajah g gaul. Tapi kenyataan memang seperti ini, kita kurang dikenal. Kenapa kita kurang dikenal? Yah apakah mungkin jawabannya adalah judul tulisan ini?

Di indonesia sendiri memang sudah menjadi realitas sendiri, bahwa terkadang pustakawan selalu bergumul dengan komunitas pustakawan lagi. Saya belum pernah melihat pustakawan bergumul secara intens dengan komunitas lain, atau malah membuat sebuah project dengan komunitas lain. Dan terkadang saya melihat pustakawan-pustakawan ini kok berasa kurang hidup atau apa memang mungkin saya baru freshgraduated dan belum benar-benar melihat gairah pustakawan-pustakawan yang memang notabene sungguh gagah berani mengkoar-koarkan semangat dan kreativitas demi mendapatkan pengakuan.

Seperti guru pun di indonesia masih belum dapat pengakuan dengan layak, bagaimana nasib pustakawan? Yah seperti itulah...begini adanya. Sebuah pengakuan, sebuah pesimistis, sebuah kegagalan tapi itu semuanya dapat memunculkan sebuah mimpi, harapan, cita dan semangat.

Bandung, malam pekat dan detik-detik terakhir..

WARNING !!

PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG BISA MENDAPATKAN SANKSI BACA SENDIRI UU RI No 19 TAHUN 2002 BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 72, APABILA MAU MENGOPI-PASTE TULISAN DISINI GUNAKAN SITASI YANG BAIK DAN BENAR