Tampilkan postingan dengan label profesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profesi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2018

Pustakawan VS SKKNI VS KAYA RAYA

Bulan ini merupakan bulan-bulan proses penerimaan CPNS, di setiap surat kabar cetak maupun online yang saya baca selalu menjadi headline. Di setiap pembicaraan para jobseeker dalam sudut warung kopi pertigaan sudut keremangan Jakarta, pembicaraan selalu berkaitan dengan soal-soal test CPNS. Dalam kemeriahan sorak sorai penerimaan CPNS tersebut, terdapat jabatan yang selalu ada dalam posisi terakhir pada setiap lembar pengumuman kebutuhan jabatan (formasi) dari penerimaan PNS setiap tahunnya. Formasi jabatan yang selalu dicari-cari oleh para lulusan kesarjanaan perpustakaan, sehingga apabila lolos dan berhasil bisa mendapatkan penghargaan tertinggi dari para calon mertua di pelosok penjuru nusantara.

Selain terdapat berita penerimaan CPNS, di beberapa WAG (Whatsapp Group) Perpustakaan, bulan ini sedang berlangsung proses penyusunan atau mungkin proses pembedahan dari yang dinamakan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk menuju KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Sungguh sangat semakin berkembang para pustakawan ini, sampai semua detail pekerjaannya dipetakan sampai pada hal remeh temeh mungkin seperti gimana caranya nempelin kertas label supaya terlihat rapih dan bagus di punggung buku? Atau pembahasannya seperti bagaimana caranya memberikan senyuman terbaik pada pengunjung perpustakaan yang bertanya, dimanakan lokasi buku cerita anak?

Ah sudahlah, bagi saya dua frase tersebut merupakan tahapan-tahapan yang ada di dunia ini. Biarkan lah menjadi terkembang, hanya saja yang menjadi lucu ketika mendengar kabar kawan yang bekerja menjadi pustakawan sekolah negeri di suatu daerah mengeluh tentang kurangnya penghasilan, atau tidak dapat naiknya penghasilan sehingga mereka lebih memilih alih profesi. Tetapi sangat berbeda ketika mendengar kabar yang satunya lagi yang bekerja menjadi pustakawan di sekolah swasta (international curriculum) dia selalu bercerita tentang pesta di sekolahnya, tentang minum kopi di starbuck dan menghabiskan waktu weekendnya berkeliling negeri sebrang atau hanya sekedang menikmati panorama alam bali.

Selain itu, beberapa kawan yang menjadi pustakawan negeri sipil (PNS) selalu bercerita tentang kurangnya apresiasi,  jenuh dengan rutinitas pustakawan, sampai pada tidak bisanya naik jabatan yang mengakibatkan tidak naiknya penghasilan seiring dengan naiknya inflasi yang terjadi di negeri ini. Beda halnya dengan pustakawan swasta di sebuah perkantoran yang selalu menikmati pagi hari dengan minum starbuck setiap paginya. Saya selaku anak kampung yang terlena dengan gemerlap lampu ibukota ini selalu melihat starbuck sebagai sebuah indikator keberhasilan seseorang.

Ngomongin soal indikator keberhasilan, seseorang dinamakan pustakawan apabila individu tersebut sudah menempuh pendidikan (apapun itu, yang penting pendidikan!!!!) seperti amanat dari hukum formilnya para pustkwn..!!! “Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.”


sumber : https://miscetceteradotcom.files.wordpress.com/2014/03/evolving-librarian.jpg
Dengan adanya istilah kompetensi dan profesi, saya jadi teringat profesi dari Dokter dan Pengacara yang mempunyai lembaga profesi berdasarkan pengetahuan saya yang paling tua, tetapi coba lihat berapa banyak dilematika lembaga profesi pengacara tersebut….ahh sudahlah… pustakawan itu bukan pengacara, tapi bisa tidak pustakawan jadi pengacara??? Yang jelas semoga pustakawan tidak menjadi Pengangguran banyak acara….

DAN APAKAH ANDA TERMASUK PUSTAKAWAN BERHASIL???????......

Minggu, 04 November 2012

Melodic Of Life

Tulisan ini berkembang dari sebuah hasrat pemikiran yang tak kunjung padam, sebuah euforia kehidupan yang ingin selalu di hinggapi sebuah kenyamanan, kebahagiaan, dan tidak sedikit mengurangi kedinamisan hidup. mungkin saat tulisan ini ditulis, ada yang mungkin sudah mengirimkan uang dengan kalkulasi tertentu, ada yang masih giat-giat melakukan pekerjaannya, ada yang masih beromantika dengan sebuah mimpi. Dan saya adalah seorang manusia yang masih beromantika dengan mimpi tersebut, sehingga muncul lah tulisan ini.

Refleksi
sembari memandang layar smartphone yang saya miliki tertuang sms tentang kalkulasi jumlah transfer dari penggantian pembelian barang, yang seharusnya lebih baik barang tersebut saya ambil tanpa harus diganti dengan uang agar saya dapat membelikan berupa barang yang sama tanpa perlu repot-repot mengambil ke tempat beliau. Kembali mengingat masa-masa dimana saya berkuliah di sebuah kampus megah di kawasan perdesaan Jatinangor, disana lah saya mulai mencari-cari seoongok pengalaman yang mungkin bisa saya kembangkan suatu saat. Saat itu saya berkuliah di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, sebuah jurusan yang bernaung di sebuah Fakultas tersohor, Fakultas Ilmu Komunikasi. Sampai-sampai setiap saya ditanya berkuliah dimana, saya tidak menyebutkan jurusannya tapi menyebutkan nama Fakultas yang jadi penaung dari jurusan saya tersebut. Dari situ mulailah saya belajar yang namanya Ilmu Informasi dan Perpustakaan.

Kuli-Ah
Masa-masa menjalani kuliah saya semakin ditempa dengan rasa ingin tahu tentang berbagai macam hal, tentang sudut-sudut keilmuan perpustakaan, sudut-sudut keilmuan berorganisasi, yang menurut saya adalah sebuah makna agar mimpi saya terwujud, mimpi seorang anak kampung yang masih haus akan bentuk sebauh keidealisan konsep ilmu. Bernaung di sebuah organisasi bertaraf Himpunan, berjibaku menggali potensi diri, menganalisis semua program-program yang berjalan, ditumpuk dengan rasa pertemanan yang nyata sembari menumbuhkan jiwa loyalitas saya pada organisasi tersebut, memberikan efek kritis bagi pemikiran saya ketika diberikan sebuah permasalahan. Dituntut untuk menghasilkan sebuah karya, berupa ijazah membuat saya berjibaku dengan kajian-kajian beragam keilmuan, dari mulai tata cara kodifikasi pengetahuan, tajuk subjek, indexing, abstracting, manajemen rancang bangun, sumber daya manusia, implementasi teknologi informasi, sampai pada kajian penyelerasan wujud kesempurnaan ilmu perpustakaan.

Selain itu, ditempa dengan kebutuhan perut dan lifestyle mahasiswa di Bandung, menumbuhkan saya untuk menerawang dan bermimpi lebih untuk menggali potensi di bidang enterpreneurship, lalu muncul lah konsep set up library: based on project dalam pemikiran saya. Bermula dengan proses magang di Perpustakaan fakultas tempat saya berkuliah, dibutuhkan untuk instalasi otomatisasi katalog pencarian di berbagai Perpustakaan Daerah, Migrasi dan Pembuatan template catalogue based on web. sampai kepada wujud mimpi saya set up library based on project saya jalani hingga masa akhir saya menyandang gelar Mahasiswa.

Present : Now
Saat ini, yang saya maksud saat ini adalah dimana setelah saya mengakhiri gelah ke-Mahasiswa-an saya, dan masuk kedalam sebuah ranah sedikit naik tanggung jawab. Saya memulai karier saya dengan menjadi Pustakawan perguruan tinggi atau tepatnya sekolah tinggi swasta di Bandung, maklum memilih di Bandung karena saya cinta kota ini, cinta suasana sejuknya, cinta akan kehadiran terutama yah pacar saya. Pada waktu itu adalah dimana saya mulai bekerja sekitar 2 minggu setelah sidang pelepasan status ke-Mahasiswa-an saya, sehingga notabene saya belum memiliki ijazah dan saya pun belum di wisudakan (sebuah profesi adat, untuk melepaskan gelar mahasiswa) Menjadi pustakawan perguruan tinggi merupakan profesi yang naik turun, cukup dinamis (tapi ini tergantung perguruan tinggi mana yah) dan lumayan waktu kerjanya juga dari sistem pengupahan yang saya dapatkan katanya lumayan besar untuk ukuran seorang pustakwan perguruan tinggi swasta yang baru sekitar tahun 2008-an berdiri (pada waktu saya lulus tahun 2011).

Dikarenakan, pola-pola pekerjaan yang kurang sesuai dengan hati, dan skema budaya kerja yang menuntut untuk saya stay disana tanpa melakukan apa-apa hanya duduk termenung menunggu seseorang yang jabatannya sedikit lebih sentral daripada saya pulang duluan, karena menunggu agar saya tidak di sindir "kok udah pulang? ngapain pulang?besok kan kesini lagi" (damn shit sampai sekarang, kata-kata tersebut membekas dan menciptakan sedikit trauma pada diri saya). Pada bulan keempat saya bekerja disana dan itu sekaligus pertanda kontrak 3 bulan saya habis, dengan begitu dramatisnya saya berhasil tidak memperpanjang kontrak dengan syarat saya mengajukan surat pernyataan tidak memperpanjang kontrak kerja ( dalam UU sebetulnya tidak diharuskan saya membuat ini!!)

Dan sekarang bernaunglah saya menjadi pustakawan di sebuah konsultan hukum yang bergerak dalam Litigasi di Kota Jakarta, entah kemana lagi pemikiran dan mimpi saya akan menerawang, tetapi saya akan tetap bermimpi dan Mimpi itu akan tetap berlanjut.

You Can Do Anything If You Have Enthusiasm --Henry Ford--

Rabu, 22 Februari 2012

PUSTAKAWAN : NARSIS KOMUNITAS

Tulisan ini memang berawal dari sebuah topik yang tak lain sangat jauh dari konteks judul, sebenarnya topik yang saya ikuti adalah sebuah topik tentang “ghostwriter” dikalangan dunia tulis menulis karya ilmiah. Tapi saya berpikir kenapa setiap saya baca sebuah topik dari berbagai macam milis pustakawan, selalu saja topik itu-itu lagi yang di bahas dan yang membahasnya pun orang-orang itu lagi. Coba bayangkan, berapa banyak sekolah yang membuka jurusan ini, berapa banyak lulusan dari ilmu perpustakaan, ilmu informasi dan perpustakaan, ilmu perpustakaan dan informasi (berapa banyak lagi istilah dari jurusan keilmuan ini). Terkadang saya gelisah dan kalut dengan hal ini, kok banyak perbedaan seperti ini padahal ini satu rumpun toh?

Selain hal ini juga, kenapa selalu ada sekat (walaupun tidak terlihat jelas) antara tiap sekolah yang mengadakan rumpun ilmu ini. Dan organisasi profesinya pun bermacam-macam, ada organisasi yang menaungi kesarjanaan ilmu perpustakaan, ada organisasi yang menaungi pustakawan plat merah lah dan bla..bla..bla.. komunitasnya pun seperti itu, kadang ada komunitas pustakawan yang terkait dengan subjek. Tapi satu hal yang membuat saya tersenyum, dengan perbedaan tersebutlah maka komunitas lain menganggap kita ada.

Tapi entah mengapa, selalu saja saya ketika bertemu dan mengobrol dengan teman secara tidak sengaja (tak lain teman yang bukan kuliah di rumpun ilmu ini) mereka bertanya ada toh jurusan itu? Dalam hati, yah ada lo ajah g gaul. Tapi kenyataan memang seperti ini, kita kurang dikenal. Kenapa kita kurang dikenal? Yah apakah mungkin jawabannya adalah judul tulisan ini?

Di indonesia sendiri memang sudah menjadi realitas sendiri, bahwa terkadang pustakawan selalu bergumul dengan komunitas pustakawan lagi. Saya belum pernah melihat pustakawan bergumul secara intens dengan komunitas lain, atau malah membuat sebuah project dengan komunitas lain. Dan terkadang saya melihat pustakawan-pustakawan ini kok berasa kurang hidup atau apa memang mungkin saya baru freshgraduated dan belum benar-benar melihat gairah pustakawan-pustakawan yang memang notabene sungguh gagah berani mengkoar-koarkan semangat dan kreativitas demi mendapatkan pengakuan.

Seperti guru pun di indonesia masih belum dapat pengakuan dengan layak, bagaimana nasib pustakawan? Yah seperti itulah...begini adanya. Sebuah pengakuan, sebuah pesimistis, sebuah kegagalan tapi itu semuanya dapat memunculkan sebuah mimpi, harapan, cita dan semangat.

Bandung, malam pekat dan detik-detik terakhir..

Jumat, 17 Februari 2012

Pustakawan Seni (Penggugah Eksistensi)

Mungkin sangat familiar sekali kita dengar, apa yang disebut dengan pustakawan. yah pustakawan itu merupakan orang yang mengelola sebuah tempat yang kita namakan perpustakaan. dalam hal ini kita tidak usah berlama-lama membahsa tentang kaidah perpustakaan dan pustakawan, karena sebenarnya itu bukan merupakan hal yang akan dibahas dalam tulisan ini.

tulisan ini muncul dikarenakan saya membaca di salah satu blog. nah, dalam blog tersebut terdapat kata yang menurut saya sangat bagus malah dapat dikatakan keren. kata tersebut adalah "Pustakawan Hukum", yang dikarenakan label penamaan diikuti dengan kata hukum, dengan otomatis tersirat bahwa pustakawan hukum adalah seorang pustakawan yang lebih concern pada dunia hukum. selain itu, label penamaan ini juga mempunyai arti bahwa orang yang memiliki profesi tersebut merupakan pustakawan yang bertugas dalam sebuah perpustakaan dalam naungan lembaga hukum (*yah banyak lah lembaga hukum, dari mulai law firm sampai kementrian hukum mungkin).

Selain itu juga, dari label penamaan tersebut saya kembali mencari tentang beberapa label penamaan yang mengikuti kata pustkawan, lalu munculah beberapa label penamaan seperti halnya, Pustakawan Sekolah, Pustakawan LSM, Pustakawan Perguruan Tinggi, dan mungkin masih banyak lagi yang mungkin belum terdeteksi oleh hasil search saya.

Hampir semua pustakawan berbangga diri akan konteks pelabelan nama tersebut. Hanya saja, jiwa saya kembali tergelitik dan kembali bertanya-tanya " Apakah ada Pustakawan Seni Rupa? atau yah cukup dengan label Pustakawan Seni?"  Pertanyaan itu tidak semata-mata muncul dari sebuah imajinasi saja sebenarnya, tetapi dari sebuah pembacaan akan realitas yang ada.

Saya sempat membaca di salah satu pidato ilmiah tentang kedudukan Science, Technology, Art. Menurut pemahaman saya ketika membaca pidato ilmiah tersebut, ketiga kata tersebut merupakan sebuah pendorong bagi kemajuan dunia ini, akan tetapi kata terakhir dari ketiga kata tersebut yaitu Art merupakan penyeimbang antara Science dan Technology. Kenapa saya istilahkan dengan kata "Seimbang" karena kedua kata diawal merupakan kata yang sangat ambisius, kata yang sangat berlogika, kata yang sangat kaku. Dan mari kita lihat apa sebenarnya Seni itu? yah seni itu memiliki keindahan, kedamaian, dan beberapa sentuhan-sentuhan yang mungkin tidak dimiliki oleh Science dan Technology. Tetapi saat ini ketiga nya mulai berkolaborasi.

Nah, sekarang coba bayangkan betapa seni itu merupakan sebuah khasanah yang sangat melekat dalam kebudayaan kita dan merupakan khasanah yang membuat dunia ini seimbang. tetapi kenapa sampai saat ini perkembangan dunia profesi Kepustakawanan, belum ada yang narsis sebagai Pustakawan Seni. Padahal saya kenal dengan beberapa yang berprofesi sebagai pustakawan di lingkup dunia seni. Pustakawan di subjek ilmu lain saja bisa, kenapa Pustakawan di lingkup seni enggak???

Bandung, detik-detik akhir pencarian jati diri Pustakawan "apakah" sayah??

Kamis, 06 Oktober 2011

Anda tahu saya tidak tahu, dan apakah kita mau berkembang?

Tulisan ini muncul dari sebuah obrolan antara seorang mahasiswa perpustakaan bersama pustakawan dan seorang ahli IT ( mungkin bisa kita bilang profesional ). juga dari hasil melihat kredibilitas mahasiswa perpustakaan di sebuah kota saat ini.
Bagaimana sebenarnya seorang bekerja?pada landasan mana?
Semua orang bekerja dengan lahan yang sudah ada, dan sudah ditetapkan dalam kontrak, dan apabila kerjaannya tidak selalu beres berarti dia tidak membereskan pekerjaan dan dia memakan gaji buta. Apakah di dunia profesionalisme itu seorang manusia TIDAK HARUS BERKEMBANG? Saya pikir itu perlu, dinamika dunia ini berjalan dan terus berjalan, samapi waktu pun berjalan. Lha, sekarang kita lihat TEKNOLOGI pun berkembang begitu pun sebuah perpustakaan, baik itu di bawah sebuah lembaga maupun di luar lembaga. Kenapa? Yah karena semua hal itu tumbuh dan berkembang, seperti halnya kita manusia. Setiap orang itu perlu ada orang lain, sebuah team work tepatnya ( kaitan pada hal organisasi).
Saya semakin rancu dengan dunia ke profesinalitasan, masih adakah sebuah profesional yang idealis? Masih adakah sebuah profesional yang mau berkembang?
Kiita bekerja apakah itu untuk UANG?mungkin uang tersebut menjamin soal hidup kita, tapi sekarang kita pikir ulang kembali, apakah lebih penting UANG atau ILMU?
UANG adalah sebuah benda yang memiliki nilai jual, sedangkan..
ILMU adalah sebuah hal yang tidak memiliki nilai jual….
Mungkin persepsi diatas yang dapat membeli segala hal, termasuk harga diri!!
Apakah di INDONESIA masih ada orang yang menghargai perpustakaan, padahal disitu banyak sekali ILMU yang bisa menghasilkan UANG, lha toh??
Apakah perpustakaan tidak boleh berjejaring, apakah perpustakaan tidak boleh eksis?
Ini zaman edan bung, kalo di INDONESIA ini zaman reformasi, dan kalo di AMERIKA ini zaman liberalisme.
Ternyata memang benar, profesionalitas itu berhubungan dengan karakter. Bukan karena UANG, kenapa? Karena coba tengok makna profesional
Seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gajisebagai upah atas jasanya. Orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan seusai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Meskipun begitu, seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut “profesional” dalam bidangnya meskipun bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah. Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat olahragawan profesional yang merupakan kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan berpartisipasi dalam sebuah turnamen/kompetisi demi uang.
Yah, sekarang kita pikirkan bersama dan kita renungkan.
Apa yang anda cari?
Apa tujuan anda?
Semuanya terserah anda, dan keputusan di tangan anda, siapkah anda berkembang atau siapkah anda terpuruk!!

Kamis, 06 Januari 2011

Masih berlakukah "Keistimewaan Pustakawan"

Keistimewaan seorang pustakawan antara lain :
  1. Adanya perhatian pemerintah yang memberikan peluang dan kesempatan lebih banyak untuk mengembangkan karir dan peningkatan kinerja para pustakawan dengan dikeluarkan keputusan Menpan No, 33/1998 tentang jabatan fungsional pustakawan dan angka kreditnya. 
  2. Profesionalisme pustakawan dalam pelaksanaan kegiatan perpustakaan berdasarkan pada keahlian dan rasa tanggungjawab. Keahlian merupakan dasar dalam menelurkan hasil kerja yang tidak sembarang orang dapat menghasilkannya. 
  3. Pustakawan merupakan seorang manajer informasi 
  4. Mempunyai banyak teman baik dari kalangan mahasiswa, dosen, karyawan, maupun masyarakat luas 
  5. Bisa menambah ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan karena banyak informasi atau bahan pustaka diperpustakaan 
  6. Dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi 
  7. Pustakawan merupakan pekerjaan yang mulia 
  8. Dapat ikut serta dalam pengentasan kebodohan dan mencerdaskan generasi bangsa 
  9. Bisa menanamkan disiplin, sabar dan percaya diri dalam melakukan pekerjaan kepustakawan 
  10. Dapat ikut serta membantu pemerintah dalam menumbuhkan minat dan kemampuan membaca masyarakat 
Oleh Bambang Hermanto

terlintas di benak saya, point-point keistimewaan di atas sangatlah ideal sekali. karena begitu spesialnya sampai-sampai ketika kita membacanya selintas, terbakar kembali semangat untuk berjuang di dunia kepustakaan ini. melihat konsep yang begitu wah, dan sangat fantastis ( karena saya melihat ke atas ), saya kembali coba bercermin dan melihat memBUMI apakah point-point tersebut sangatlah nyata? mungkin di beberapa perpustakaan point-point tersebut nyata dan sangat realistas, tetapi ketika kita menghubungkannya dengan kenyataan UU No.43 tahun 2007, soal aspek-aspek perpustakaan dan kepustakawanan sungguh sangat mengherankan. berbeda dengan apa yang di harapkan selama ini, ngomongin soal keistimewaan ini apakah sama dengan keistimewaan seorang fropesi dokter? memang sangatlah berbeda, tetapi secara esensi kedua-duanya adalah jenis profesi( jadi yah sama ajah ).

obrolan berlanjut ke point profesionalitas-an, profesionalitas mungkin tidak melihat aspek-aspek lain kecuali melihat terhadap standart job desk dan prosedural pengerjaan dari job desk tersebut ( sungguh kaku, dan baku ) tetapi hasrat profesionalitas ini, menurut saya masih bias dalam dunia profesi kepustakawanan itu sendiri. kenapa? masih banyak para pustakawan ( dan yang mengaku pustakawan ) belum menjalankan hasrat dari konsep profesional ini, jangan kan kita ngomongin pustakawan, profesi lainnya pun tidak seperti itu ( halah, no body's perfect ).

nyuruput kopi dulu, setelah itu ngomongin soal manajerial informasi. beberapa lembaga butuh, tapi saya rasa konsep manajerial informasi ini sendiri, masih dan harus di sounding ulang oleh para pelaku manajerial informasinya itu sendiri. terkadang masyarakat pun enggak ngeh dengan kehadiran manajerial informasi, tetapi mereka kadang merasakn manfaatnya dari hasil manajerialisasi informasi ini. ( sungguh aneh ). dan point-point selanjutnya..bla..bla..

inti dari obrolan malam ini adalah ketika point-point keistimewaan diatas adalah sebuah pemanfaatan tersendiri untuk diri sendiri yang di kelola sendiri. sehingga terkadang masyarakat luas tidak tahu akan hal-hal tersebut. sesungguhnya yang namanya keistimewaan itu masyarakat luas tahu, seperti halnya hak istimewa buat yogyakarta (duh). selain itu juga, kita ( para manusia yang menamakan pustakawan, ahli informasi, dan apapun macamnya ) terlihat terlalu narsis akan dunia kepustakawan kita, terlalu narsis berlomba menggembor-gemborkan keistimewaan diri kita masing-masing, sehingga LUPA untuk mengembor-gemborkan KEISTIMEWAAN kita tersebut ke masyarakat luas. sehingga segmentasi dan stakholder akan hal tersebut sangatlah terasakan. 



ibarat sebuah cerita :
wine yang sudah berumur ratusan tahun, dan dihargai mahal. tetapi karena saking mahalnya wine tersebut tidak diketahui oleh masyarakat luas, hanya beberapa golongan ningrat dan penikmat wine saja yang mengetahui keberadaan wine tersebut.
 yah, dunia kepustakawan itu sama halnya dengan dunia ningrat, dan perpustakaan itu sendiri adalah wine. sangatlah bertolak-belakang, dan inilah indonesia, seperti itulah nasib kita.
saya tidak bermaksud menjatuhkan mental kita semua, tetapi seharusnya lebih bersemangat akan keberadaan akan hal-hal tersebut, dan kita menjadi berpikir bagaimana mengubah wine tersebut menjadi bajigur yang bisa di nikmati berbagai macam kalangan masyarakat sehingga minuman bajigur lebih dikenal. bajigur dan wine sama-sama menghangatkan tetapi stakeholder yang meminumnya yang berbeda.


presiden soekarno pernah berkata : berikanlah saya 1 orang pemuda maka saya akan mengubah dunia. dan dunia perpustakaan pun butuh pemuda tersebut, berikanlah perpustakaan seorang pustakawan yang berkualitas, maka dia akan mengubah dunia pendidikan kita.

WARNING !!

PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG BISA MENDAPATKAN SANKSI BACA SENDIRI UU RI No 19 TAHUN 2002 BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 72, APABILA MAU MENGOPI-PASTE TULISAN DISINI GUNAKAN SITASI YANG BAIK DAN BENAR