Tampilkan postingan dengan label senayan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senayan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

RDA ( Resources Description Access ) dan Perpustakaan di Indonesia

Dunia perpustakaan kini telah berkembang, seperti halnya zaman ini yang mulai berkembang. memasuki sebuah hal yang dinamakan "serba mudah". serba mudah itu sendiri telah sedikit diterapkan dalam konsep mendapatkan informasi, dengan didukung oleh UU Keterbukaan Informasi. selain itu, "serba mudah" itu sendiri sering dikaitkan dengan penggunaan teknologi, untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang menghasilkan hal "serba mudah". Dengan seiringnya kata "serba mudah" tersebut munculah sebuah konsep perpustakaan yang berbasis teknologi, dikarenakan untuk mendukung hal yang "serba mudah" tersebut.

Seiring dengan berkembangnya negara indonesia, berkembang juga dunia ke-perpustaka-an kita. perkembangan tersebut adalah dengan mewujudkan sebuah fenomena pergeseran paradigma, dari perpustakaan konvensional kepada perpustakaan kontemporer. perpustakaan yang dikatakan kontemporer adalah sebuah perpustakaan yang mengikuti perkembangan zaman, baik dari segi kegiatan teknis maupun segi kegiatan strategis. hal tersebut juga, didukung dengan tujuan dari mendirikan sebuah perpustakaan yaitu memeberikan kepuasan kepada pengguna, yah kepuasan "serba mudah" tersebut.
dengan perkembangan perpustakaan terhadap teknologi tersebut, sedikit demi sedikit hal -hal yang berbau konvensional ditinggalkan oleh perpustakaan. seprti, dimulainya mengotomatisasikan kegiatan-kegiatan teknis perpustakaan, megotomatiskan kegaitan-kegiatan prosedural perpustakaan, lalu hingga membuat standarisasi peng-kataloga-an yang dibuat berdasarakna konsep teknologi ini, yang lebih dikenal sekarang adalah RDA ( Resource Description Access ). konsep ini muncul, dikarenakan latar belakang katalog-katalog kartu itu sudah harus diganti dengan katalog-katalog digital.

RDA sendiri dirancang untuk sebuah produk online ( katalog online ) yang digunakan dalam lingkungan web, yang bercirikan :

  1. Disesuaikan dengan Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR) dari IFLA dan model data baru yang relevan.
  2. Petunjuk untuk pencatatan data akan disajikan terpisah dari petunjuk untuk tampilan data, supaya terjadi fleksibilitas yang lebih besar untuk cantuman yang digunakan di pelbagai lingkungan online.
  3. Tata letak dan format lebih ramah terhadap pengguna (user-friendly), dengan petunjuk yang ditulis dalam bahasa Inggris yang sederhana (maksudnya: tanpa terminologi yang hanya dimengerti oleh kalangan pustakawan), sehingga peraturan ini dapat dengan mudah dipakai di luar dunia perpustakaan.

Terlihat dari 3 poin diatas pengguna semakin dimanjakan, untuk melihat katolg-katalog perpustakaan online ( tidak hanya katalog online-shop saja yang memanjakan pengguna). tapi sayang, masih banyak pro kontra dalam konsep ini, dari mulai harga mahal sampai kita pun sebagai pustakawan dituntut untuk mengerti konsep dari digitalisasi dulu.
tetapi, yah tergantung kita juga kan mau memakai konsep ini atau enggak. sekarang pertanyaan yang muncul, apakah pengguna di indonesia se-hyperaktif inikah dalam penelusuran informasi, toh terkadang ada saja mereka (pengguna) yang tidak melihat katalog dan langsung saja bertanya pada pustakawan tentang buku. yah, sebenarnya konsep RDA ini adalah konsep yang dianut perpustakaan digital.

sedangkan di indonesia, perpustakaan lebih banyak menggunakan konsep perpustakaan hybrid ( pendit, putu laxman, 2008: 238h). yah, sekarang pertanyaan muncul, konsep RDA ini sudah mendukung untuk peprustakaan hybrid belum? sudah mendukung untuk penggunaan di indonesia belum, sebenarnya RDA ini hanya pengetahuan, yang sekarang sedang booming, dan mungkin di indonesia ada sekitar kurang lebih 20-30 tahun mendatang. karena konsep perpustakaan ter-automasi saja baru banyak dilaksanakan sekarang, sedangkan di luar sana, sudah dari 15 tahun kemarin..

yang menjadi, pro kontra disini bukan per-masalah-an RDA tapi permasalahan pembenahan perpustakaan itu sendiri, apakah perpustakaan sudah "terbenahi" belum? bukan nya menyalahi, masih banyak kepala perpustakaan bukan dari lulusan ilmu perpustakaan malah dari anggota partai politik, masih ada pustakawan yang g gaul, masih banyak pustakawan yang pake nalurinya dalam menjalankan perpustakaan, dan masih banyak pula pustakawan yang belum mengenal metadata ( apalagi pustakawan di perpusda)..yah selamat bertanya..??

karena di luar sana perpustakaan sudah tampak"keren", beda dengan kita disini ^_^
Bandung, sambil menyusun kerangka pemikiran..

Minggu, 06 Februari 2011

Studi Action Research mengenai pengaplikasian Senayan Library Management System sebagai Teknologi Pengelolaan Koleksi di Perpustakaan

RANCANG BANGUN SISTEM OTOMASI PERPUSTAKAAN
( Studi Action Research mengenai pengaplikasian Senayan Library Management System sebagai Teknologi Pengelolaan Koleksi di Perpustakaan )

judul itu yang kini terngiang-ngiang di benak saya.
coba kita sedikit menguraikan aspek2 yang ada, dalam judul tersebut. judul ini terdiri dari dua rangkaian kata yaitu sistem otomasi dan pengelolaan koleksi. sistem otomasi perpustakaan sendiri atau lebih tepatnya otomatisasi perpustakaan adalah seperangkat aplikasi komputer untuk kegiatan di perpustakaan yang terutamakan bercirikan penggunann pangkalan data ukuran besar, dan kandungan cantuman tekstual yang dominan, dan dengan fasilitas utama dalam hal menyimpan, menemukan, dan menyajikan informasi ( Pendit, 2008;222 ). sedangkan pengelolaan koleksi itu terkait dengan bagaimana kegiatan perpustakaan yang berhubungan dengan koleksi perpustakaan itu sendiri, ketika dikaitkan dengan prinsip dasar dari otomasi perpustakaan yang berkaitan dengan menyimpan, menemukan, dan menjikan. pengelolaan koleksi perpustakaan dapat diartikan dengan kegiatan mengolah, sirkulasi, dan temu balik koleksi yang dimiliki perpustakaan. tetapi, pada hakikatnya pengelolaan koleksi atau manajemen koleksi dengan mengadaptasi dari pendapat suslistiyo basuki terdapat lima fase utama, antara lain : pengadaan, pengolahan,pendistribusian, penyimpanan dan perawatan.
dalam pengaplikasian sistem otomasi yang di kaitkan dengan teknologi yang dipakai untuk mengelola koleksi, terdapat hanya 3 bagian yang terpakai dalam cakupan pengelolaan koleksi yaitu pengolahan, pendistribusian, penyimpanan.
otomasi/ otomatisasi pengolahan, yaitu dimana kita sebagai pustakawan mengentri data bibliographis dan data item untuk di masukan ke dalam sebuah database. otomasi/otomatisasi pendistribusian, yaitu dimana kita kita mempublikasikan hasil dari pengolahan koleksi. yang lebih dikenal dengan katalog, tetapi dengan otomasi ini kita lebih mengenalnya dengan Online Public Acsess Catalogue. dalam distribusi ini juga pustakawan dengan otomatis melakukan kegiatan sirkulasi, karena konteksnya distribusi berarti menyebarkan, secara tidak langsung juga melayani. otomasi/ otomatisasi penyimpanan, secara tidak langsung dalam pengolahan data yang sudah di input disimpan dalam database.
oleh karena itu, konsep pengaplikasian ini ketika di kaitkan dengan konsep pengelolaan koleksi. tidak seluruh aspek pengelolaan koleksi tertarik dalam sistem otomasi ini, diakarenakan dalam konsep otomasi itu sendiri fasilitas utamanya adalah dalam hal menyimpan, menemukan, dan menyajikan informasi. tetapi, sistem otomasi ini akan mempermudah pustakawan dalam mengelola koleksi dalam aspek pemenuhan kebutuhan pengguna.

WARNING !!

PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG BISA MENDAPATKAN SANKSI BACA SENDIRI UU RI No 19 TAHUN 2002 BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 72, APABILA MAU MENGOPI-PASTE TULISAN DISINI GUNAKAN SITASI YANG BAIK DAN BENAR