Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

Melodic Of Life

Tulisan ini berkembang dari sebuah hasrat pemikiran yang tak kunjung padam, sebuah euforia kehidupan yang ingin selalu di hinggapi sebuah kenyamanan, kebahagiaan, dan tidak sedikit mengurangi kedinamisan hidup. mungkin saat tulisan ini ditulis, ada yang mungkin sudah mengirimkan uang dengan kalkulasi tertentu, ada yang masih giat-giat melakukan pekerjaannya, ada yang masih beromantika dengan sebuah mimpi. Dan saya adalah seorang manusia yang masih beromantika dengan mimpi tersebut, sehingga muncul lah tulisan ini.

Refleksi
sembari memandang layar smartphone yang saya miliki tertuang sms tentang kalkulasi jumlah transfer dari penggantian pembelian barang, yang seharusnya lebih baik barang tersebut saya ambil tanpa harus diganti dengan uang agar saya dapat membelikan berupa barang yang sama tanpa perlu repot-repot mengambil ke tempat beliau. Kembali mengingat masa-masa dimana saya berkuliah di sebuah kampus megah di kawasan perdesaan Jatinangor, disana lah saya mulai mencari-cari seoongok pengalaman yang mungkin bisa saya kembangkan suatu saat. Saat itu saya berkuliah di Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan, sebuah jurusan yang bernaung di sebuah Fakultas tersohor, Fakultas Ilmu Komunikasi. Sampai-sampai setiap saya ditanya berkuliah dimana, saya tidak menyebutkan jurusannya tapi menyebutkan nama Fakultas yang jadi penaung dari jurusan saya tersebut. Dari situ mulailah saya belajar yang namanya Ilmu Informasi dan Perpustakaan.

Kuli-Ah
Masa-masa menjalani kuliah saya semakin ditempa dengan rasa ingin tahu tentang berbagai macam hal, tentang sudut-sudut keilmuan perpustakaan, sudut-sudut keilmuan berorganisasi, yang menurut saya adalah sebuah makna agar mimpi saya terwujud, mimpi seorang anak kampung yang masih haus akan bentuk sebauh keidealisan konsep ilmu. Bernaung di sebuah organisasi bertaraf Himpunan, berjibaku menggali potensi diri, menganalisis semua program-program yang berjalan, ditumpuk dengan rasa pertemanan yang nyata sembari menumbuhkan jiwa loyalitas saya pada organisasi tersebut, memberikan efek kritis bagi pemikiran saya ketika diberikan sebuah permasalahan. Dituntut untuk menghasilkan sebuah karya, berupa ijazah membuat saya berjibaku dengan kajian-kajian beragam keilmuan, dari mulai tata cara kodifikasi pengetahuan, tajuk subjek, indexing, abstracting, manajemen rancang bangun, sumber daya manusia, implementasi teknologi informasi, sampai pada kajian penyelerasan wujud kesempurnaan ilmu perpustakaan.

Selain itu, ditempa dengan kebutuhan perut dan lifestyle mahasiswa di Bandung, menumbuhkan saya untuk menerawang dan bermimpi lebih untuk menggali potensi di bidang enterpreneurship, lalu muncul lah konsep set up library: based on project dalam pemikiran saya. Bermula dengan proses magang di Perpustakaan fakultas tempat saya berkuliah, dibutuhkan untuk instalasi otomatisasi katalog pencarian di berbagai Perpustakaan Daerah, Migrasi dan Pembuatan template catalogue based on web. sampai kepada wujud mimpi saya set up library based on project saya jalani hingga masa akhir saya menyandang gelar Mahasiswa.

Present : Now
Saat ini, yang saya maksud saat ini adalah dimana setelah saya mengakhiri gelah ke-Mahasiswa-an saya, dan masuk kedalam sebuah ranah sedikit naik tanggung jawab. Saya memulai karier saya dengan menjadi Pustakawan perguruan tinggi atau tepatnya sekolah tinggi swasta di Bandung, maklum memilih di Bandung karena saya cinta kota ini, cinta suasana sejuknya, cinta akan kehadiran terutama yah pacar saya. Pada waktu itu adalah dimana saya mulai bekerja sekitar 2 minggu setelah sidang pelepasan status ke-Mahasiswa-an saya, sehingga notabene saya belum memiliki ijazah dan saya pun belum di wisudakan (sebuah profesi adat, untuk melepaskan gelar mahasiswa) Menjadi pustakawan perguruan tinggi merupakan profesi yang naik turun, cukup dinamis (tapi ini tergantung perguruan tinggi mana yah) dan lumayan waktu kerjanya juga dari sistem pengupahan yang saya dapatkan katanya lumayan besar untuk ukuran seorang pustakwan perguruan tinggi swasta yang baru sekitar tahun 2008-an berdiri (pada waktu saya lulus tahun 2011).

Dikarenakan, pola-pola pekerjaan yang kurang sesuai dengan hati, dan skema budaya kerja yang menuntut untuk saya stay disana tanpa melakukan apa-apa hanya duduk termenung menunggu seseorang yang jabatannya sedikit lebih sentral daripada saya pulang duluan, karena menunggu agar saya tidak di sindir "kok udah pulang? ngapain pulang?besok kan kesini lagi" (damn shit sampai sekarang, kata-kata tersebut membekas dan menciptakan sedikit trauma pada diri saya). Pada bulan keempat saya bekerja disana dan itu sekaligus pertanda kontrak 3 bulan saya habis, dengan begitu dramatisnya saya berhasil tidak memperpanjang kontrak dengan syarat saya mengajukan surat pernyataan tidak memperpanjang kontrak kerja ( dalam UU sebetulnya tidak diharuskan saya membuat ini!!)

Dan sekarang bernaunglah saya menjadi pustakawan di sebuah konsultan hukum yang bergerak dalam Litigasi di Kota Jakarta, entah kemana lagi pemikiran dan mimpi saya akan menerawang, tetapi saya akan tetap bermimpi dan Mimpi itu akan tetap berlanjut.

You Can Do Anything If You Have Enthusiasm --Henry Ford--

Jumat, 28 Oktober 2011

Menunggu : Sebuah Makna Kegelisahan

Menunggu adalah sebuah bentuk kegiatan pasif, kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang malas. malas dalam pengertian manapun (sepakat? klo tidak sepakat tinggalkan blog ini). mari kita lanjutkan.
menunggu sebenarnya merupakan sebuah kata yang sangat indah (kenapa saya bilang indah?). yah karena kata menunggu ini bila disandingkan dengan kata-kata lainnya bisa bermakna negatif, seperti apa yang telah saya sampaikan di atas. dapat pula menjadi bermakna sangat indah, seperti halnya ketika disandingkan dengan kata "kekasih" menjadi menunggu kekasih (indah bukan?).

Menunggu ini sebenarnya sebuah kata dimana, pola-pola simbolisasinya merupakan simbolisasi ambigu. karena terjadi dua disposisi yang sangat menarik begitupun mengherankan. bayangkan apabila penggunaan ini diberikan pada pola kalimat "menunggu datangnya duit" nah kan jadi jelek maknanya. coba sandingkan dengan " menunggu  waktu gajihan" nah jadi bagus kan??hehehe....

Coba kita ulas kembali tentang bagaimana banyak orang mengatakan menunggu merupakan kegiatan yang membosankan, menjenuhkan, dan sangat negatif. hal negatif ini dapat dirubah menjadi hal positif apabila kita melirik alternatif-alternatif lain dalam pola kata per kata yang akan kita ungkapkan maupun kita pikirkan. hanya saja, kita sebagai manusia memang terkadang dalam proses reaktif mendengar ataupun membaca perlu pemahaman lebih jauh, untuk menimbang makna kata per kata. kita memproses atau memaknai kata per kata tersbeut dengan sebuah pemaknaan yang sudah ada di masyarakat umum, atau yang sudah terbiasa kita dengar dari orang tua sejak masa kecil.

Penulis, malah kembali berpikir. sebenernya pola-pola kalimat yang disusun dari tiap kata per kata mempunyai sejuta bahkan semilyar makna. karena memang coba kita pikirkan kembali kata per kata yang akan kita sampaikan kepada orang lain. coba lihat ekspresi muka, lihat latar belakangnya. setiap kata itu sangat indah, punya dua sisi pemaknaan. seperti halnya ada hitam, ada putih. ada baik, ada jahat dll. sehingga makna dari kata menunggu ini menjadi bias, dan menjadi sebuah makna gelisah sebenarnya. tanpa kita sadari, kita telah memplotnya menjadi sebuah bagian-bagian penyampaian identitas kita, identitas dimana hal tersebut menunjukan siapa kita, bagaimana kita berbuat, dan seperti apa kita di masa lalu.

Pembendaharaan kata ini pula, yang menjadi sebuah latar bagi penulis untuk mengeluarkan statment tentang kata menunggu memiliki pemaknaan konsep kegelisahaan. karena memang, semunya berpangkal dari bagaimana kita melihat, berpikir dan menilai akan suatu hal. oleh karena itu, 
selamat menunggu dengan kesan yang positif, sehingga kita lupa akan hal-hal negatif yang ada dalam makna sebenarnya, biarkan kita terbawa oleh pola pikir imajinatif kita, sehingga kita menemukan sebuah keunikan dari konsep kegelisahan itu sendiri.

Bandung, 28 Oktober 2011

Sabtu, 15 Januari 2011

Keluguan Mimpi dan Cita-Cita

Kalian tau apa itu mimpi?
Analisis mimpi yang digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar. Pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktifitas emosi lain, hingga aktifitas emosi yang sama sekali tidak disadari
Kalian tau apa itu cita-cita?
cita-cita itu mirip dengan analisis mimpi, tidak jauh berbeda hanya berbeda ibu dan ayah
(lho!!)

yah semua orang berhak mempunyainya, atau malahan semua orang wajib memilikinya yah? bermimpilah seluas mungkin dan bercita-citalah setinggi langit, hal unik dari dasar tulisan ini adalah dari obrolah 3 orang anak kecil dan satu orang dewasa yang sedang galau. sungguh sangat lucu melihatnya, melihat mereka yang mungkin arti kata 'kencing' pun belum tahu.  mereka satu-satu menceritakan kesenangan dan pengalamannya di bangku sekolah dasar, satu-satu mulai yang dari paling besar ke yang paling kecil.

yang satu suka baca buku ( bercita-cita jadi guru, dan langsung anteng setelah dikasih buku encyclopedia indonesia ) yang satu lagi suka musik ( sampe2 ngtraining temen-temenya di SD dgn upah 1 orang 1000 ), yang satu lagi pinter baca al-quran ( ampe bercita-cita jadi khotib )...

sungguh sangat heran mendengarkan celotehan anak sekecil mereka, tetapi celotehan itu kadang bisa menggugah hati dan pikiran kita. membukakan gerbang pikiran kita yang telah diracuni oleh politik dunia, dan telah terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan yang belum tentu kita syukuri keberadaannya. membuat kita tersadar akan semuanya, keluguan seorang anak kecil yang masih memiliki mimpi semurni susu dan selembut bulu angsa ( tentunya tanpa embel-embel pragmatisme ).

ketika mendengar kata cita-cita, masih ingatkah kita tentang ungkapan " kejarlah cita-citamu sampai ke negeri cina ". apakah ini ada hubungannya, untuk mencapai hasil dari 'cita-cita' itu membutuhkan proses yang memang membutuhkan kerja keras, seperti yang di ungkapkan tersebut kerjalah ibarat berlari, negeri cina adlah sebuah negeri yang jauh sekali dari indonesia. tetapi secara unik banyak orang cina yang mencapai mimpi-mimpinya, malahan melebihi apa yang mereka mimpikan.

hal-hal kecil tersebut yang seharusnya memberikan dorongan, dan rasa keterbukaan kita akan mimpi dan cita-cita. bandingkan, dengan seorang anak kecil yang masih lugu dan kita yang telah di nodai dengan proses hingga ke tahap yang sekarang ini. saya semakin bertanya, apakah mimpi dan cita-cita yang kita punyai masih memiliki makna 'keluguan' tersebutkah atau sudah diracuni oleh segelumit permasalahan yang ada.. dengan hal tersebut saya mencoba merenungi apa yang sudah terjadi, dan apa yang akan terjadi dengan mimpi dan cita-cita saya.

tulisan ini pun adalah bagian dari sebuah sekenario mimpi dan cita-cita ( mungkin sudah tidak lugu ). kebeningan dan ketulusan itu kini susah untuk dicari, dan semakin kita membuat ketulusan dan kebeningan, semakin banyak orang menginginkannya dan dengan 'tega' merongrong saling membunuh satu sama lain untuk mendapatkannya. itulah keluguan yang telah hilang dari sebuah cita-cita dan mimpi kita selama ini.
jadikanlah mimpi dan cita-cita mu selugu hati para anak kecil yang masih menunggu akan semuanya. seraya nantinya akan diburu juga oleh pemburu-pemburu rasa lugu dan mungkin kemurnian dari cita-cita dan mimpi itu akan hancur dengan seiringnya waktu,
Purwakarta, dalam kamar yang gerah. 

Jumat, 14 Januari 2011

Sebuah Tujuan

 tujuan dalam hidup banyak manusia tentunya adalah sebuah kebahagiaan, tapi terkadang manusia sangatlah egois untuk mencapai proses kebahagian itu. sungguh sangat disayangkan, ketika semua hal yang kita ungkapkan sebagai keinginan dan pada akhirnya menjadi sebuah 'senjata makan tuan'.
seperti ketika banyak orang yang menginginkan liburan, dan pada akhirnya mengakibatkan sebuah kerugian financial maupun fisik ( sakit ). padahal itu berawal dari tujuannya yaitu 'liburan'. tujuan yah hanya sekedar tujuan, tetapi proses untuk mencapai tujuan tersebut yang membuat kita semua menjadi sebuah pribadi yang kuat ( tanpa obat kuat tentunya ).
cerita-cerita dari dulu kala membuat kita terkesan, tetapi memang kita tidak bisa menjelma menjadi cerita tersebut. kita menulis cerita kita sendiri sebagai bahan pembelajaran bagi orang lain, dan mudah-mudahan tidak di tiru. karena setiap manusia menulis sejarahnya sendiri, tidak seperti seorang penulis biografi yang menuliskan kisah tokoh-tokoh terkenal. padahal kisah kita tidak jauh berbeda dari kisah tokoh-tokoh terkenal tersebut. yang membedakan hanyalah perjalan hidup mereka sedikit dibumbui oleh 'keberuntungan'.
kita bukan mereka, dan selalu bersyukur apa yang telah kita punya. manusia bukanlah makhluk yang sempurna, sehingga kita pun punya keterbatasan. strength and weakness, tinggal kita mengelolanya dan menjadikan sebuah ciri khas bagi kita sebagai individu.
tujuan yah tinggal tujuan, kita tuliskan tujuan tersebut pada selembar kertas dan seraya berharap tujuan itu bisa membuat kita bahagia. harapan yah tinggal harapan, tinggal kita gantungkan harapan itu setinggi langit, sehingga mencapai langit ketujuh seraya berharap tuhan akan membalasnya.
purwakarta, dalam kamar yang sedikitnya hangat.

WARNING !!

PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG BISA MENDAPATKAN SANKSI BACA SENDIRI UU RI No 19 TAHUN 2002 BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 72, APABILA MAU MENGOPI-PASTE TULISAN DISINI GUNAKAN SITASI YANG BAIK DAN BENAR