Minggu, 30 November 2014

Purwakarta ku Kan Kembali

Purwakarta merupakan sebuah Kabupaten kecil di pelosok Jawa Barat, banyak orang bilang kalau disini merupakan tempatnya para veteran perang zaman penjajahan beristirahat. Kalau melihat dari sisi geografisnya sekarang ini, wilayah Purwakarta merupakan sebuah tempat transit bagi para truk-truk logisitik yang mengirimkan barang dari Jakarta ke daerah-daerah priangan timur sana, atau mungkin ke daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perihal tersebut juga mungkin yang menunjukan bahwa pada zaman kolonial fungsi wilayah kecil yang sejuk namun panas ini sebagai tempat transit para kaum militan pembela tanah air kita, sehingga banyak sekali mayoritas warga nya merupakan orang-orang tua yang segelintir aktivitasnya untuk beristirahat.
sumber : can i say 
Kembali ke wilayah ini merupakan kembalinya saya ke kampung halaman setelah kurang lebih 7 Tahun di tanah orang lain, masih tetap saja seperti itu suasanan yang sejuk dan panas. Tidak lebih dan Tidak kurang struktur dan lingkungan serta kebiasaan masyarakat yang santai dan tenang selalu hadir dalam setiap harinya. Sungguh sangat terjadi perbedaan dengan dua kota metropolitan yang mengapit letak geografis Purwakarta ini. Kita bisa bayangkan bagaimana megahnya Jakarta dan bagaimana kreatifnya Bandung, sebagai penghubung dari kedua kota metropolitan tersebut, menjadikan Purwakarta mempunyai budaya, lifestyle, sosialita yang merupakan hasil campuran keduanya.

Dengan kepindahan saya ke kota kelahiran, merupakan sebuah tantangan baru bagaimana dengan ilmu yang saya miliki dapat berguna di Kabupaten kecil ini, bagaimana saya sebagai pekerja informasi bisa masuk dan menjadi bagian dari Masyarakat yang menurut penglihatan mata saya belum menjadi sebuah masyarakat informasi, kenapa? yah salah satunya jaringan internet disini belum sekencang dan belum banyak ditemukan provider-provider internet di lain tempat, Selain itu fungsi perpustakaan daerah pun masih minim, karena mereka secara promosi masih kurang.

Tidak banyak komentar tentang Kabupaten kecil yang bersahaja ini, membuat warganya tampak begitu nyaman dengan kondisi dan lingkungan. Entah itu, dengan kembalinya saya kesini menjadi sebuah harapan baru bagi diri saya sendiri untuk memikirkan masa depan di kota nan tenang dan sepi ini. Setidaknya bisa berbenah diri, hati dan finansial untuk menghadapi esok pagi yang lebih cerah.

Selain itu, dengan saya ada di Purwakarta dan kembali ke kota kelahiran ini, saya bisa semakin belajar tentang lingkup sejarah dari tempat lahir saya. oia, tidak lupa bagi para wanita diluar sana hasil survey dari beberapa mojang Bandung yang saya suka ajak ngobrol kalau laki-laki dari Purwakarta tuh gantengnya punya ciri khas, entah itu apa, tapi katanya suka bikin orang nyaman dan penasaran.
sumber : meme

Rabu, 23 Oktober 2013

Jalan Ini Absurd.!

Kadang kalau mikirin tentang hidup itu, terlalu absurd. dan tidak jelas. kalau dijelaskan hidup itu berkaitan dengan waktu, waktu itu adalah sebuah perhitungan matematis, maka akan terdapat pola-pola yang jelas. tetapi apa? sok apa? hidup ini absurd. kadang banyak hal diluar logika dan perhitungan matematis yang dapat terjadi. banyak hal yang sudah direncanakan, dituliskan sebagai mimpi dan harapan kadang tidak terjadi. karena, sudah lama saya tidak menulis dalam blog ini (loh?) saya setidaknya akan menuliskan apa yang saya alami sehari-hari kemudian.

Gambar : http://articlejournal.net
Balik lagi ke topic soal keabsurdan hidup, begini cerita nya pada sekitar hari sabtu 19 Oktober 2013 adalah moment yang saya tunggu karena pada hari tersebut adalah hari dimana launching (gaya beut) pengumuman penerimaan tahap ke 2 dari sebuah instansi pemerintah yang sudah lama saya impikan, karena dari waktu kuliah saya kepengen dan ngebet banget jadi peneliti. ternyata pada saat pengumuman sudah diumumkan nama saya tidak tertera.

lalu entah kenapa, saya mulai kepikiran untuk mencoba melihat email rutin dari jobstreet.com yang sedari saya mulai kerja di tempat yang sekarang selalu langsung saya hapus dari mailbox. keisengan tersebut berlanjut dengan saya membaca bahwa ada lowongan sebagai legal librarian specialist, kemudian dengan gak terlalu banyak mikir saya apply saja.

beberapa hari kemudian, munculah pengumuman bahwa saya keterima untuk mengikuti test di salah satu lembaga pemerintaha kembali, dan ternyata testnya akan dilaksanakan hari minggu. yang membuat absurd, rata-rata test penerimaan yang saya ikuti di lembaga pemerintahan ini selalu mendapatkan hari weekend yang dengan otomatis saya tidak perlu banyak izin ke kantor saya saat ini. beberapa saat kemudian, telepon saya berdering dan ternyata yang menelepon adalah pihak dari kantor yang memberikan pengumuman posisi legal librarian specialist, dengan maksud untuk mengundang saya mengikuti psikotest pada hari Sabtu. kembali lagi absurd, karena dari dulu setiap ada panggilan kerja selalu di hari kerja, yang secara otomatis saya mesti izin dari kantor.

itu soal pekerjaan, selanjutnya kita bicara soal duit, yah duit bahasa lebih halusnya rezeki. tetapi saya tidak sepakat kalau rezeki itu disamakan dengan duit. back to topik, pada pertengahan bulan saldo di rekening saya tinggal 100 rebu rupiah, secara matematis duit 100 rebu rupiah dengan biaya hidup di Jakarta selama 20 hari itu secara logika itu tidak cukup. secara ajaib, salah satu teman ngopi-ngopi saya setiap jumat sore menelepon saya dan mengabarkan bahwa doi dapet rezeki dan meminta no rekening saya. Alhamdulillah, transferan duitnya cukup untuk memenuhi biaya hidup di Jakarta sampai saya menerima donasi dari kantor di akhir bulan nanti.

Yah, begitulah segala keabsurdan kehidupan. terkadang saya cuma bisa tersenyum dan seraya berucap dalam hati. Ya Allah engkau maha segalanya. Nikmat mana lagi yang mesti kita keluhkan, semua ini kembali lagi pada dirimu sendiri dan pada yang diatas,

Salam Absurd!

Fatmawati, 20 Oktober 2013

Selasa, 01 Januari 2013

Kisah "Galau" Seorang Advokat : Fiksi Ilmiah

Sosok seorang advokat atau pengacara lebih dikenal masyarakat awam sebagai seorang sosok yang penuh intrik dan galmour dalam nuansa hidupnya, tetapi lika-liku perjalanan kehidupan dan kisah cinta dari profesi pengacara ini yang terkadang publik tidak tahu, sebuah profesi terhormat (Officium Nobile) digambarkan oleh Budi Satrio dengan jelas, santai dan tersistematika dalam novel bergenre worklit yang di beri judul " Hitam Putih" sebuah makna judul yang menggambarkan profesi hukum di tataran dunia.

Budi Satrio menggunakan sosok Dewa yang di gambarkan sebagai seorang pengacara muda papan atas, dan berkantor di bilangan Kuningan Jakarta serta memiliki Apartemen Pribadi di wilayah pusat kota sudirman, disertai dengan kemewahan Mobil Volvo 69 yang selalu menjadi andalannya untuk bertemu dengan klien agar dapat meyakinkan bahwa kliennya tidak salah dalam memilih sosok kuasa hukum yang dapat membantunya dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang pelik di Indonesia ini.


Dalam Novel ini juga dipaparkan tentang kondisi hukum di Indonesia dengan sangat gamblang melalui case-case yang ditangani oleh Dewa yang dimulai oleh sebuah gugatan class action yang perlu ditangani dengan menyuap majelis hakim dan case demo mogok kerja buruh yang di dalamnya terdapat unsur politisasi. Selain sebagai buku berjenis hiburan, novel ini juga memberikan sedikit pengetahuan teknis bagaimana seorang pengacara dalam bekerja, karena tidak lupa penulis membumbui novel ini dengan sedikit teori-teori hukum, serta langkah seorang lawyer dalam bekerja.

Sebuah fiksi biasanya tidak lengkap apabila tidak terdapat unsur melankolis di dalamnya, Novel inipun menyajikan hal serupa. Dari mulai suasana haru biru seorang Dewa yang demi menghapuskan kemiskinan rela banting tulang untuk mengamen dan memulai kuliah hukum pada malam harinya, kekosongan hati ketika sudah memiliki materi yang berlimpah, dan sampai pada moment spiritual ketika Dewa bertemu dengan Pak Haji Muhid. Serta dilengkapi dengan ending yang mungkin para pembaca tidak dapat menerkanya, karena dari awal pembaca sudah disuguhi sebuah tempo imajiner yang menggebu-gebu.

Judul     : Hitam Putih
Penulis  : Budi Satrio
Penerbit : Literati
Harga : Rp.39.000

WARNING !!

PLAGIAT ADALAH TINDAKAN YANG BISA MENDAPATKAN SANKSI BACA SENDIRI UU RI No 19 TAHUN 2002 BAB XIII Ketentuan Pidana Pasal 72, APABILA MAU MENGOPI-PASTE TULISAN DISINI GUNAKAN SITASI YANG BAIK DAN BENAR